| by admin | No comments

Apresiasi Atas Penangkapan Pelaku Penyerang Novel Baswedan

Sementara sejumlah pihak telah mempertimbangkan kasus penangkapan dua pelaku air keras yang disiram setelah menyelidiki Komisi Pembasmi Korupsi Baswedan (KPK) yang baru, berindikasi menyimpang, tetapi penyelidikan terus berlanjut. Ketua KPK yang kontroversial Firli Bahuri juga menghargai penangkapan yang dituduhkan oleh penyerang. Pengungkapan publik atas kasus ini telah menjadi sesuatu yang sudah lama ditunggu-tunggu publik. “Ini adalah jawaban yang sudah lama ditunggu-tunggu orang Indonesia,” katanya kepada gedung KPK di Kuningan. Pada kesempatan ini, pria itu mengucapkan terima kasih kepada Kepala Kepolisian Nasional, Jenderal Idham Azis. Penangkapan kedua pelaku, dalam pandangannya, merupakan sinyal dan bukti yang baik bahwa pihak berwenang berkewajiban menyelesaikan kasus ini.

“Terungkap bahwa para pelaku penganiayaan terhadap personil KPK, saya sebagai ketua KPK, telah menyatakan penghargaan tertinggi di bawah kapten kepala polisi Idham Azis. Saya menyampaikan kesuksesan dan selamat kepada seluruh kepolisian, ”kata Firli.

Politik Indonesia

Penghargaan juga datang dari Menteri Koordinasi Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud, MD. Dia mengatakan kepada Tempo bahwa akan lebih baik jika polisi sudah menangkap dua tersangka dengan air keras. “Tidak apa-apa. Kita serahkan itu ke polisi, kejaksaan agung, lalu hakim,” kata Mahfud, menghadiri pesta ulang tahun kesepuluh Gus Dur di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu malam.

Mahfud telah meminta masyarakat untuk menunggu persidangan berikutnya di pengadilan. Dia yakin pengadilan akan membuka semua tabir kabur yang terhambat dalam menangani kasus ini. Pengadilan akan membuka semua tabir yang tersembunyi dari semua hal. “Jika ada yang disembunyikan nanti, itu akan dibuka di pengadilan,” kata Mahfud.

Secara terpisah, dua pelaku dengan inisial RB dan RM menyatakan bahwa motif serangan itu semata-mata karena kebencian dendam. Ini diperkuat ketika salah satu dari mereka berteriak bahwa dia tidak suka novel Baswedan. “Harap dicatat bahwa saya tidak suka novel itu karena pengkhianat,”. Sementara itu, tersangka lain, juga aktif di kepolisian nasional, RM, telah memilih untuk tetap diam dengan menganggukkan kepala. Keduanya dipindahkan dari sel Kepolisian Metro Jaya ke Layanan Investigasi Kriminal Nasional. Penasihat Departemen Hubungan Masyarakat Karo Penmas Polri Brigadir Jenderal Prabowo Argo Yuwono mengatakan RB adalah tersangka yang merupakan eksekutor. “RB (yang siram),” kata Argo. Politik Dunia

Dia menambahkan peran RM sebagai pengendara sepeda motor yang naik dengan RB. Sampai RB berhasil menyiram cairan kimia dalam novel Baswedan dan mengenai satu mata. Sebelumnya, mereka ditangkap Kamis malam oleh polisi di Cimanggis, Depok. Brigadir Jenderal Polisi Karopenma Argo Yuwono mengatakan bahwa Kepolisian Nasional telah menyelidiki hingga 73 saksi dalam penyelidikan mereka, selain melakukan TKP atau pra-rekonstruksi hingga 7 kali.

“Setelah melalui proses yang panjang, penelitiannya juga sama. Kemudian polisi membentuk tim teknis, tim ahli, “kata Argo kepada polisi daerah Metro Jaya, Jumat. Berdasarkan pengamatan Tempo, salah satu tersangka yang mengenakan inisial RB memiliki wajah yang mirip dengan sketsa yang dirilis Tempo pada Juli 2017. Dalam sketsa yang dibuat oleh Tempo dari para saksi di lantai, pria itu memiliki wajah bulat lurus dengan rambut disisir ke belakang. Dengan ciri-ciri berumur 35, sekitar 165 cm, agak gelap, kulit lezat. Selama serangan itu, pelaku mengenakan jaket denim dengan penutup kepala.

Sketsa ini berbeda dari yang diungkapkan oleh polisi ssebelumnya. Pada Juli 2017, kepala polisi Indonesia (pensiunan), Tito Karnavian, dilaporkan oleh sumber yang sama, merilis sketsa wajah seorang pria. Menurut Tito, gambar itu dibuat setelah seorang saksi mengaku melihat wajah penulis lima menit sebelum Novel diserang. Novel disiram dengan air keras oleh orang yang tidak dikenal, membuat mata kirinya hampir buta pada 11 April 2017.

Apakah kita layak percaya, apakah dugaan penangkapan para pelaku irigasi yang keras ini konsisten dengan kenyataan? Bukan sembarang trik untuk mencegah publik mengangkat masalah ini lagi. Mari kita beri otoritas kesempatan untuk membuktikan bahwa tidak ada alasan untuk penyimpangan dan kecurigaan publik. Berita Politik Terkini

Politik Indonesia

Leave a Reply