| by admin | No comments

Mengukur Peluang Prabowo di Pilpres 2024

Mengingat kegagalan Prabowo dalam pemilihan presiden, ia memulai pada 2009 sebagai calon wakil presiden bersama Megawati Sukarnoputri sebagai calon presiden. Duo yang disponsori Gerindra dan PDIP ini kalah melawan petahana Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono. Jauh sebelum itu, pada Pemilu 2004, Prabowo mencoba peruntungan dengan mengikuti kontestasi pemilihan presiden oleh kongres calon presiden dari Partai Golkar. Saat itu, Prabowo bersaing dengan Akbar Tanjung, Wiranto, Aburizal Bakrie, dan Surya Paloh.

Namun, yang terpilih adalah Wiranto setelah mengalahkan Akbar di babak kedua. Pada pemilihan presiden 2014, Prabowo kembali mencalonkan diri sebagai presiden, dan kandidatnya adalah Hatta Rajasa dari Partai Amanat Nasional (PAN). Dengan dukungan Gerindra, PAN, PPP, PKS, Golkar dan PBB, ia harus kalah melawan duet Joko Widodo-Jusuf Kalla. Tak terima kalah, Prabowo mengikuti hasil Pilpres 2014 di hadapan Mahkamah Konstitusi dan akhirnya kalah.

Politik Indonesia

Pada pemilu berikutnya, yakni Pilpres 2019, Prabowo kembali mencalonkan diri sebagai calon presiden, didampingi Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden. Untuk kedua kalinya, Prabowo kalah dari Jokowi yang memilih Ma’ruf Amin sebagai runner-up. Karena Prabowo tidak berkesempatan menjadi presiden, ia pun bergabung dalam kabinet pemerintahan Jokowi-Ma’ruf untuk Indonesia Maju sebagai Menteri Pertahanan. Sementara Wakil Presiden Sandiaga Uno masuk kabinet sebagai Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif.

Kami mencoba mengukur kelayakan Prabowo Subianto pasca Pilpres 2019 berdasarkan hasil survei dari beberapa lembaga. Dalam survei Indostrategis yang dilakukan pada Agustus 2021 dengan 2.400 responden dari 34 provinsi, Prabowo berada di urutan teratas dengan tingkat partisipasi 17,5%. Di bawahnya ada Anies Baswedan dengan 17% dan Ganjar Pranowo dengan 8,1%. Dalam jajak pendapat SMRC yang dilakukan 15-21 September 2021, eligibilitas Prabowo lebih tinggi dari Ganjar dan Anies. 1.220 peserta yang dipilih secara acak dengan tingkat kesalahan sekitar 3,19% berpartisipasi dalam survei SMRC.

Dalam survei indikator politik yang dilakukan pada 30 Juli hingga 4 Agustus 2021, diketahui tingkat kelayakan Prabowo mencapai 26,2%; disusul Ganjar 20,8 persen; dan 15,5 persen dari Annie. Dalam survei LSI Denny JA yang dirilis pada Juni 2021, Prabowo terus menempati posisi nomor satu dengan tingkat kelayakan tertinggi. Menurut hasil survei, Prabowo menempati urutan pertama di antara calon presiden dengan tingkat pemilihan 23,5%. Disusul Ganjar di posisi kedua dengan perolehan suara 15,5% dan Anies 13,8%. Survei LSI dilakukan dari 27 Mei hingga 4 Juni 2021 dengan 1.200 responden.

Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin mengatakan pencalonan Prabowo berjalan cukup baik. Pendiriannya sebagai Ketum Gerindra dan penentu akhir nama-nama yang akan dipakai pada Pilpres 2024 membuat Prabowo unggul lebih dulu dari nama-nama yang tidak berasal dari pimpinan parpol. Selain keistimewaan menjadi pemimpin partai, jabatan sebagai Menteri Pertahanan juga dipandang sebagai pilar strategis dan memberikan pengalaman dalam pemerintahan. Berita Politik Terkini

Ujang pun merasa, pengangkatan kembali itu mencerminkan rasa penasaran Prabowo setelah terus gagal di pemilu lalu. Dari segi peluang menang, Ujang Prabowo melihat peluang yang sama dengan calon presiden lainnya. “Tidak ada petahana dalam Pilpres 2024, jadi ada peluang untuk menang. Meski belum tentu bisa diperebutkan,” kata Ujang.

Meski hasil survei menunjukkan, eligibilitas Prabowo sangat brilian. Namun, menurut pengamat politik dari Universitas Andalas Asrinaldi, hal itu perlahan akan berkurang. Hal ini disebabkan preferensi politik pemilih yang semakin kritis. Omong-omong, jika mengikuti catatan Prabowo di Pilpres 2019, ia masuk kabinet Jokowi. “Ini persis penilaian sebagian pemilih yang menilai Prabowo sangat pragmatis dalam politik, sehingga demokrasi tertinggal karena tidak ada kekuatan penyeimbang dalam demokrasi,” katanya kepada wartawan Tirto.

Selain itu, Prabowo bersaing dengan nama-nama muda yang belum memiliki rekam jejak buruk di kancah politik nasional. Nama-nama seperti Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, dan Ridwan Kamil hanya terhalang oleh sikap etis pemerintah dan/atau sebagai kader partai. Karena itu ia tidak bisa beriklan secara optimal. Hal ini membuat peluang Prabowo untuk memenangkan Pilpres 2024 relatif tipis, kata Asrinaldi. “Gerindra harus memperhitungkan perubahan yang akan terjadi ke depan dengan menyiapkan skuat alternatif yang bisa menempati posisi sangat dominan dari Prabowo hingga Gerindra,” ujarnya. Politik Dunia

Politik Indonesia

Leave a Reply