| by admin | No comments

Menilik Langkah Anies Untuk Pilpres 2024

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dipastikan tidak akan menghadiri rapat 212 yang digelar Kamis (2/12/2021) di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat. Anies terutama hadir pada penandatanganan perjanjian pembiayaan usaha mikro di aula besar DKI Jakarta. Dia terlihat dalam acara yang diluncurkan oleh Ibukota Aparatur Sipil Negara (PNM) pada pukul 10:15 WIB, Kamis, ketika beberapa dari 212 massa berkumpul di sekitar patung kuda. Berita Politik Terkini

Ini merupakan kali kedua secara berturut-turut Anies tidak mengikuti ajang yang berlangsung pada 2 Desember setiap tahun tersebut. Anies juga tidak hadir saat bentrokan 212 terjadi kira-kira tahun lalu. Bahkan, pada pertemuan-pertemuan tahun-tahun sebelumnya, Anies masih hadir di antara kelompok massa yang mendukungnya di Pilkada DKI Jakarta 2017.

Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin mencatat, Anies kini mulai menjauhkan diri dari 212. kelompok gerakan. “Sepertinya Anies sudah mulai menjauhkan diri demi Pilpres 2024. Bahkan tahun ini pun acara itu tidak disetujui,” kata Ujang Kamis (2/12/2021). ). Ujang mengatakan keputusan Anies untuk menjauhkan diri dari Grup 212 adalah keputusan politik yang wajar. Memang, kedekatan dengan kelompok 212, yang sering diidentikkan dengan kelompok Islam garis keras, bisa merugikan Anies.

Politik Indonesia
“Kalau Anies masih di dekatnya (212), dia akan dituduh lawan politiknya radikal,” kata Ujang. Apalagi jumlah massa pendukung dan simpatisan gerakan 212 juga tidak signifikan bagi kancah politik nasional. Pada 2016, Anies bisa saja memanfaatkan keputusan kelompok itu untuk menuntut Gubernur Basuki Tjahaja Purnama yang akan keluar dari penjara karena penodaan agama.

Namun Ujang percaya bahwa lanskap politik nasional akan sangat berbeda. Karena itu, Anies pasti sudah melupakan kelompok yang turut mengamankan posisi DKI 1. “Kalau Anies hanya didukung 212, itu celah. Kalau Anies jadi capres, dia harus didukung semua kalangan,” Ujang dikatakan.

Analis politik UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno mengatakan kedekatan Anies dengan kelompok Islam tertentu telah membuat mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mandek untuk pemilihan. “Anies tidak bisa lepas dari bayang-bayang beberapa kelompok Islam. Pemeluknya kuat, tetapi mereka tidak punya tempat untuk menyebar karena kelompok lain sulit didekati. Wajah agama terlalu dominan,” jelas Adi. Karena itu, menurut Adi, wajar saja jika Anies belakangan ini mencoba memoles dirinya agar terlihat pro kebhinekaan.

Hal itu ditunjukkan Anies saat bertemu dengan Kepala Perwakilan Daerah Jatim, Nadhlatul Ulama, Marzuki Mustamar. Adi menilai kunjungan tersebut merupakan hasil perhitungan politik yang matang, karena Anies selama ini hanya terlihat mewakili basis pemilihnya dalam Pilkada Jakarta 2017 yang sarat dengan politik identitas. “Ini karena basis Nahdliyin (NU) yang pola pikirnya sedikit berbeda dengan basis Anies (pemilih). Kelompok Nahdliyin sulit menerima Anies karena Anies terlalu dekat dengan kelompok yang dianggap tidak jamak,” kata Adi. Politik Dunia

Politik Indonesia

Leave a Reply