| by admin | No comments

Taktik Marinir Meredam Demonstran

Ratusan mahasiswa yang bertindak anarkis di tengah kericuhan DPR / MPR berhasil dipukul mundur. Salah satu alasannya adalah peran perangkat TNI yang kala itu terjun langsung ke massa.

Dandim 0501 / JP BS Lt. Col. (Inf) Wahyu Yudhayana mengatakan mengutamakan dialog dan pendekatan humanistik bagi mahasiswa yang saat ini sedang dalam suasana panas. Politik Indonesia

Kami menyelamatkan mereka dan masyarakat. Jika tetap ada, proses hukum akan dilanjutkan. Kalau melibatkan mereka mungkin mengganggu, ” kata Wahyu.

Wahyu melanjutkan, para mahasiswa itu tertawa dan ngotot tinggal saat bertemu dengan anggota DPR untuk menyampaikan ambisinya.

“Mereka tertawa dan ingin bertemu. Saya minta mereka pulang karena sudah larut malam. Di sini saya ingin menyelamatkan masyarakat dan mahasiswa sendiri, karena tugas saya menjaga keamanan dan ketertiban.” , ujar Wahyu. Bahkan Wahyu meminta para mahasiswa mengapresiasi kerja para petugas yang berusaha menjaga ketertiban.

“Saya mengatakan kepada mereka untuk menghormati kami dan Marinir. Mereka harus pulang. Mahasiswa harus memiliki kepercayaan dari masyarakat. Kalau kurang puas tulis surat dan hadirin, ”imbuh Wahyu.

Menurut Wahyu, mahasiswa rela patuh karena sadar tindakannya mengganggu ketertiban umum. Berita Politik Terkini

“Saya berterima kasih karena mereka punya niat baik. Saya tunjukkan niat baik mereka. Kalau niat baik, sampaikan secara intelektual dan kualitatif. Karena janji mereka baru terwujud pada 23 dan 24 September,” kata Wahyu.

Wahyu sempat membawa pasukan BKO Korps Marinir melintasi Ladogi untuk bertemu dengan mahasiswa dan mengajak mereka menenangkan diri.

“Situasi massa sedang memanas, tapi kami tetap berusaha untuk bernegosiasi, mendengarkan dan meredam gejolak emosi jiwa-jiwa muda ini,” lanjut Wahyu.

Wahyu meyakinkan bahwa TNI dan Polri bukan musuh sesama mahasiswa, keberadaan alat itu ada untuk memastikan aksi mereka yang ingin memprovokasi, sejauh ini aksi UNRAS berjalan dengan baik. jadi tidak boleh dikompromikan dengan tindakan individu yang bertindak atas nama siswa. Perlahan tapi pasti ketegangan di kerumunan mahasiswa mereda. Setelah matahari terbit, massa kembali ke rumah. Politik Dunia

“Saya bersyukur tidak ada korban jiwa dalam aksi ini, dan saya belajar untuk kita semua bahwa mediasi atau komunikasi akan mencairkan suasana, terima kasih kepada masyarakat dan mahasiswa yang masih mendengarkan kami dan ingin berkomunikasi, Polri, jadi sekali lagi situasi kondusif, ”kata Wahyu Dandim.

Pantauan MerahPutih.com di situs demo Selasa (24/9), apa yang dilakukan personel TNI AD dan TNI AL patut mendapat dorongan. Mereka sama sekali tidak terprovokasi oleh siswa yang melakukan kekerasan.

Tetap tegas tapi tenang. Sama sekali tidak ada pukulan atau tembakan dari pasukan ini. Mereka bertahan hidup sendiri sambil terus meminta para siswa untuk menenangkan diri.

Bahkan, pasukan TNI menyediakan air minum dalam kemasan bagi pelajar yang lelah dan haus. “Terima kasih Pak TNI,” teriak mahasiswa tersebut kepada Marinir dan TNI AD.

Sikap tenang TNI juga berhasil. Massa secara bertahap menjadi tenang. Nyatanya, tak lama kemudian, para mahasiswa itu berbincang dengan ratusan tentara bergaris. Tuntutan TNI membubarkan mahasiswa akhirnya diperhatikan.

Seperti kita ketahui, gelombang aksi mahasiswa di jalanan mahasiswa berlanjut pada Selasa 24 September 2019, setelah kami juga menyelenggarakan aksi pada Senin 23 September 2019. Aksi itu dilakukan tidak hanya di daerah, tapi juga di ibu kota. Di Ibukota, aksi mahasiswa berlangsung di depan gedung DPR / MPR.

Akibat aksi tersebut, tol Dalam Kota Cawang-Tomang ditutup. Namun pada malam hari, aksi tersebut berubah menjadi kerusuhan. Sejumlah fasilitas umum rusak dan dibakar. Ada stasiun lalu lintas Slipi, stasiun lalu lintas untuk Kementerian Pemuda dan Olahraga, dan kantor polisi Pal Merah. Ada juga bus dan jeep TNI yang dibakar.

Politik Indonesia

Leave a Reply